liya moudiva's blog

liya moudiva's blog

the power of white rose

liya moudiva's blog RSS Feed
 
 
 
 

Guru di Mata Orang Awam

‘Guru’, kata ini melekat pada diriku kini. Kata yang mengubah hidupku, cara pikirku, dan sikapku. Dalam bahasa Jawa, kata ini akronim dari ‘digugu lan ditiru’, sungguh dalam artinya, yang diperhatikan dan diikuti atau lebih tepat jika kusimpulkan sebagai ‘yang menjadi panutan’. Kata ‘guru’ ini, dalam KBBI bermakna “orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar”. Ehm… memang artinya sangat luas namun sarat makna. Aku setuju dengan pemahaman orang Jawa akan makna ‘guru’ dalam kehidupan mereka. Bukan berarti aku tak sepaham dengan KBBI lho. Namun, rasanya akan lebih pas lagi jika makna-makna ini dijelaskan lebih spesifik sehingga orang tak akan menganggap bahwa ‘guru’ adalah yang tau segalanya. Wow… serem banget kan?!

Dua belas tahun yang lalu aku mengawali kesukaanku ‘membagi’ yang kumiliki ini. Meski belum lulus kuliah, aku selalu senang mengumpulkan anak-anak tetangga untuk belajar bahasa Inggris atau melamar di berbagai tempat kursus ecek-ecek yang bayarannya hanya cukup untuk ongkos pulang saja. Hehe… entah kenapa saat itu selalu senang menerima berapa pun honor yang mereka berikan. Setelah menyelesaikan studi S1 sepuluh tahun yang lalu, pembimbing skripsiku yang saat itu menjabat sebagai dekan di fakultas kami membukakan jalan dengan mengangkatku menjadi dosen honorer (sebelumnya, aku menjadi asistennya selama satu tahun). Di sinilah arah bidukku mulai ditentukan.

Setiap murid selalu menganggap bahwa gurunya lebih banyak tau, dan harus kuakui itu juga yang ada di pikiranku puluhan tahun silam. Namun, kini aku memahami banyak hal dari ‘belajar dalam bekerja’. Guru tetaplah manusia biasa yang juga punya kekurangan dan adakalanya juga melakukan kesalahan. Sayangnya, di sekelilingku masih banyak orang yang menganggap bahwa guru selalu lebih banyak tau dalam segala hal bahkan muridku yang notabene orang asing yang sudah bekerja di perusahaan bonafid sekalipun. Kesimpulan sederhana ini kudapat dari pengalaman menjadi ‘guru’ di tengah-tengah masyarakat yang sangat heterogen ini.

Beberapa tahun setelah lulus, seorang rekan dosen menawarkan aku mengajar privat bahasa Cina untuk dua orang anak berusia enam dan delapan tahun. Alex dan Sandra sangat pintar dan rajin menghapal. Semua kosa kata di dalam buku dapat mereka ingat dalam beberapa hari dan mereka juga mampu menuliskan aksara Han yang terkenal rumit itu dengan baik. Suatu kali, aku menggunakan buku yang tingkat kesulitannya mulai tinggi. Buku-buku ini sebenarnya telah disediakan oleh orang tua mereka. Aku hanya membantu mereka memahami isi buku dan kemudian melatihnya agar mereka dapat menggunakan bahasa nenek moyang mereka ini dalam keseharian. Pada saat mengamati teks yang akan kuberikan, aku menemukan satu aksara Han yang aku tidak tau, jadi refleks aku mengeluarkan kamus dari tas-ku. Namun apa yang terjadi? Kedua murid kecilku ini memandangku aneh, “Laoshi (means guru) kok buka kamus? Emang laoshi nggak tau (artinya)? Laoshi kan udah laoshi, masa nggak tau artinya?!” Gubrak!!! Aku terdiam sesaat, namun tak lama kujawab juga pertanyaan polos mereka diiringi senyum bijak. Sepanjang perjalanan pulang, aku masih memikirkan pertanyaan mereka tadi, laoshi kan udah laoshi, masa nggak tau artinya?! Sungguhkah seorang guru setara dengan kamus berjalan? Harus tau semua kosa kata dalam bahasa asing yang (mungkin) kita kuasai? Mengingat ini, aku hanya mampu tersenyum. Seorang ‘guru’ sungguh luar biasa.

Selain mengajar bahasa Cina, dulu aku juga mengajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia untuk penutur asing. Murid bahasa Inggris pertamaku adalah seorang disainer sebuah pabrik garment di Cibitung. Mbak Yunia sangat seru dan lucu. Perawakannya kecil dan selalu tampil modis. Baju-baju yang dirancangnya sangat unik dan terkini. Mbak Yunia mengajariku cara berpenampilan yang baik, dari ujung rambut sampai ujung kaki (harus kuakui, perubahanku menjadi ‘lebih wanita’ berkat mbak Yunia). Suatu hari aku datang saat mbak Yunia sedang memasak. Karena privat, mbak Yunia memilih belajar di rumah mungilnya di daerah Bekasi Timur. Dengan serunya mbak Yunia berusaha menjelaskan bahan dan proses memasaknya dalam bahasa Inggris. Aku tersenyum puas melihat keberaniannya menggunakan bahasa Inggris yang masih ‘belepotan’ di sana sini. Namun aku sangat memakluminya. Waktu sekali seminggu satu setengah jam selama dua bulan memang belum maksimal untuknya. Selesai menghidangkan semua masakannya, mbak Yunia mengajakku makan. Di tengah makan, obrolan kami sampai pada kebiasaan hidup orang Barat di negerinya sana. Tiba-tiba mbak Yunia bertanya, apakah aku pernah makan bersama bule untuk mengetahui cara mereka makan. Dengan santai kujawab, aku saat ini mengajar orang Australia di kawasan industri Pulo Gadung, tapi tidak pernah makan bersama mereka. Mbak Yunia mengernyitkan dahinya. Aku bingung, rasanya tidak ada yang aneh dengan jawabanku. Tak lama mbak Yunia menjawab kebingunganku dengan pertanyaan berikutnya, “April kan gurunya, masa nggak pernah makan bareng ama Mr Christ?” Aku melongo menatap mbak Yunia penuh rasa heran! Benar aku gurunya, tapi kan aku bukan pacarnya, atau istrinya, atau koleganya? Kenapa aku harus makan bareng bule Australia itu hanya untuk mengetahui cara makannya?! Apa seorang guru bisa menginterupsi kehidupan pribadi muridnya demi memuaskan rasa ingin taunya?! Wow… hebatnya seorang guru..

Mr Hans adalah murid asing pertamaku yang belajar bahasa Indonesia. Dia orang Korea yang mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak Korea di sebuah lembaga kursus di bilangan Kebayoran. Menurutku Mr Hans tidak seperti orang Korea, wajah orientalnya ini sangat mirip dengan si jago kungfu ternama dari Hongkong, Jacky Chan  Mr Hans tinggal di sebuah apartemen di Cempaka Putih bersama istri, anak perempuan semata wayangnya dan seorang pembantu. Dalam perjalanan belajarnya, Mr Hans sering menanyakan lokasi-lokasi di Jakarta maupun di Indonesia yang bisa ia kunjungi saat libur. Kebetulan untuk urusan jalan-jalan, aku punya banyak referensi, jadi Mr Hans selalu tersenyum puas di pertemuan selanjutnya jika ia telah mengunjungi tempat yang aku rekomendasikan. Acungan jempol kiri akan mengawali sesi belajar jika ia puas dengan pilihan lokasi dariku. Suatu hari Mr Hans mengeluhkan perilaku supirnya yang mulai sering tidak masuk tanpa alasan hingga ia harus naik taksi untuk sampai di kantornya. Kadang-kadang isterinya juga terpaksa menjemput sendiri anak mereka dari sekolah karena supir selalu datang terlambat tanpa pemberitahuan. Mr Hans meminta tolong padaku untuk mencarikan supir. Dengan hati-hati aku menjawab,”Saya tanya ayah saya dulu ya, mungkin beliau punya kenalan yang sedang membutuhkan pekerjaan.” Namun, rupanya jawabanku memancing kerut di dahi Mr Hans, “Ms April kan orang Indonesia yang juga guru, masa tidak punya kenalan?” O My God! Aku terbengong-bengong mendengar respon Mr Hans. Aku kan hanya guru, bukan makelar tenaga kerja?! Apa kalau guru bahasa Indonesia di Indonesia harus juga mengenal semua lapisan orang di Indonesia?! Pertanyaan yang mirip juga muncul beberapa tahun kemudian dari seorang murid berkebangsaan Jepang, “Sensei kan guru Indonesia, kenapa tidak tau upacara adat di Makasar?” Aku kan guru, bukan pengamat budaya atau budayawan? Apa aku harus tau semua upacara adat di Indonesia yang jumlahnya ratusan itu? Kalau dia tanya apapun tentang tradisi Jawa, mungkin aku akan menjawab lebih banyak dari pengharapannya, tapi Makasar?! Ufh… (setelah kejadian ini, aku mulai ‘belajar’ lebih banyak tentang Indonesia dengan menyisihkan sebagian honorku untuk membeli buku-buku bahkan mendatangi beberapa tempat yang bernilai sejarah dan tradisi) Hoho… betapa jagonya seorang guru di mata para muridnya!

Di lingkungan tempat tinggalku, para tetangga juga punya penilaian dan ‘pengharapan’ yang cukup tinggi untuk seorang guru seperti aku. Apalagi mereka menganggap, ‘dosen itu gurunya guru’, jadi pasti lebih pintar dari orang tua mereka bahkan gurunya di sekolah. Sering aku tertawa geli saat mereka menganggap aku mampu melakukan banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran. Sebagian hal tersebut kebetulan aku memang mampu melakukannya, seperti memasak, merangkai bunga, menghias tumpeng, membuat hiasan untuk ulang tahun atau perayaan khusus, membuat aneka bentuk dengan kertas lipat (origami), menjahit, memasang payet, membungkus kado dengan kreatif, atau memanfaatkan ‘barang bekas’ di rumah. Tak jarang mereka juga memintaku membantu anak-anak mereka dalam menyelesaikan tugas atau latihan-latihan berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris bahkan membuat karya tulis dan prakarya. Seringnya aku senang dapat membantu mereka, namun sekali lagi kutekankan, guru bagi mereka laksana manusia serba bisa hingga pengharapan mereka mulai lebih terhadapku. Suatu malam anak tetangga sebelah mendatangi rumahku. Ayu, ABG kelas 1 SMP ini membawa buku pelajaran, buku catatan, dan alat tulis. “Tante, aku mau tanya sesuatu nih. Bukan PR sih, tapi aku mau ngerjain latihan. Ayah ama mama nggak ngerti, jadi mama suruh aku tanya tante.” Aku segera mengambil pensil dari meja kerjaku dan duduk menghampiri Ayu di ruang tamu. Setelah Ayu membuka bukunya, aku terbelalak kaget. Ternyata Ayu membawa buku matematika dan yang disodorkannya padaku adalah bab aljabar! Wink, wink, wink… 2x + 3y + 5 = bla bla. Pada soal ini, x dan y adalah koefisien dan 5 adalah konstanta. Wuaaaa…….. benar aku guru, dan tidak salah aku dosen, tapi aku guru bahasa, aku dosen bahasa, bukan guru atau dosen aljabar! Ugh… dengan mengandalkan memori belasan tahun yang lalu, aku berusaha membantu Ayu menyelesaikan soal-soal aljabarnya. Berulang kubaca dan kucermati lagi rumus-rumus yang tertera di sana. Setelah setengah jam lebih, aku berhasil menjelaskan semua rumus pada Ayu, namun satu contoh soal tak berhasil kupecahkan karena hitungannya tidak lagi pangkat dua, namun pangkat tiga. Dengan hati-hati aku sampaikan pada Ayu bahwa aku tidak bisa menemukan petunjuk menjelaskan jalan rumus ini. Aku berjanji akan menanyakannya dulu pada teman yang paham, besok aku akan memanggilnya jika aku sudah menemukan jawabnya. Ayu mengangguk lalu berpamitan. Sepulangnya Ayu, aku langsung menelepon seorang teman untuk membantuku memecahkan soal aljabar tadi. Temanku hanya tertawa saat kujelaskan semuanya. “Kamu guru yang luar biasa ya?” Keesokan harinya, kupanggil Ayu untuk menjelaskan sisa rumus yang semalam belum terpecahkan jalannya. Ayu tersenyum puas sambil mengucapkan terima kasih saat pulang. Setelah itu aku duduk bersandar di kursi panjang ruang tamu, lega rasanya mampu membuat Ayu tersenyum. Sungguh sempurnanya seorang guru….

Aku memaklumi cara pandang dan cara pikir orang terhadap profesiku. Sungguh aku belajar banyak dari cara mereka menilai dan menumpukan harapan mereka padaku. Jangankan orang awam, yang ‘makan sekolahan’ pun tak jarang juga memiliki pendapat yang sama tentang sosok guru. Seorang teman milis sangat bingung saat aku ditanya tentang tokoh perang Cina yang terkenal, aku hanya mengedikkan bahu. “Elu kan guru bahasa Cina, masa nggak tau? Apalagi elu udah S2.” Aku menatap tepat di matanya sambil berkata, “ Gue tau dia, tapi gue nggak tau banyak tentang dia. Elu tau kenapa? Karena gue guru bahasa Cina, bukan guru sejarah Cina. S2 gue juga linguistik terapan bidang pengajaran bahasa, bukan pengajaran sejarah.” Dia hanya mengangguk-angguk sambil mengeluarkan kata “O… begitu.” Entah paham atau tidak, aku tak peduli. Yang ada di pikiranku saat itu hanya “Berapa giga sih kapasitas otak seorang guru?” Hehe… apa kalian juga menganggap seorang guru sesempurna yang dipikirkan orang banyak?! Aku siap mendengar tuntutan begini dan begitu dari kalian, juga pengharapan kalian terhadap seorang guru. Soal mampu atau tidak aku penuhi, itu urusan nanti  yang penting, aku akan terus belajar dan belajar. Bukan untuk menyempurnakan diri, tapi untuk mengintrospeksi kekurangan diri..
Ilmu itu milik Allah, dan aku hanya memiliki setetes dari lautan ilmu yang dimilikiNya :)

why white rose?

pertanyaan yang selalu diajukan padaku saat pertama kali mereka melihat sekuntum mawar putih sebagai latar belakang desktopku. aku suka sekali mawar, khususnya yang berwarna putih. aku mengoleksi ratusan gambar mawar di note book bahkan sebagian besar barang yang kumiliki berciri bunga cantik ini.

cinta ketiga

boleh ambil kalau suka :)

coretan pertama

pertama kali saya menulis ketika saya berusia 12 atau 13 tahun.  saya masih ingat, momen yang membuat saya menulis. seorang sepupu yang cukup dekat meninggal dunia karena kecelakaan. saat itu saya merasa sangat kehilangan. setelah menemui keluarganya, kami pulang. sampai di rumah, segera mengalir kata-kata polos rasa kehilangan saya atas kepergiannya.

beautiful life

pertama kali mengenal kata ’sulit’ adalah ketika saya harus ikut lomba murid teladan tingkat kabupaten. saat itu saya berusia sekitar 11 tahun.

time table

May 2012
M T W T F S S
« Jan    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

why white rose?

nobody believe that i really fall in love with white rose. when the first time they know me, they never predict that i adore that flower. that's me, the white rose :)

pengajaran

pengunjung