大家好!
试一试用汉字写。。。
试一试用汉字写。。。
Bidik Festival Hanyu Qiao 2011
Sabtu, 15 Januari 2011
http://www.indopos.co.id/index.php/cina-town/3557-bidik-festival-hanyu-qiao-2011.html
BAGI mahasiswa sastra dan bahasa China di tanah air, ajang Festival Hanyu Qiao, merupakan even yang begitu ditunggu-tunggu. Pasalnya, festival bergengsi ini memberikan banyak manfaat bagi pesertanya. Terutama mahasiwa program sastra dan bahasa Mandarin dari Universitas Dharma Persada (Unsada), Jakarta. Karena itu kampus itu berusaha mempersiapkan mahasiswanya guna mengikuti kontes tertinggi bagi para mahasiswa program studi China di tanah air tersebut. ”Festival Hanyu Qiao sangat prestisius. Penyelenggaraanya langsung Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Mereka menggelar acara itu di kampus yang ditunjuk sebagai lokasi kegiatan,” terang Ketua Program Bahasa Mandarin Unsada, Hin Goan Gunawan, kemarin (14/1).
Diterangkan juga, festival Hanyu Qiao memberikan kesempatan bagi pelajar yang berprestasi mengikuti studi di Negara Tirai Bambu tersebut. Meski festival ini tak menyerupai perlombaan, tetapi lebih pada pendalaman terhadap budaya Tiongkok. Dalam festival ini, sambung dia juga, banyak kegiatan yang digelar. Mulai dari lomba nyanyi, pidato, puisi dan cerdas cermat. Namun lomba itu hanya bagian dari proses pengenalan budaya saja. ”Jadi kalau dibilang lomba, tidak juga benar. Lebih persis sebagai kegiatan pengembangan pengetahuan tentang Tiongkok dan kebudayaannya,” paparnya. Maka tak heran, lanjut alumnus Dharma Persada itu juga, kegiatan ini langsung dikoordinir Pemerintah Tiongkok. Mereka mengirimkan tim panitianya ke Indonesia untuk menentukan lokasi kegiatan.
Hin juga mengaku tengah mempersiapkan mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Karena merupakan event prestisius bagi mahasiswanya, sekaligus menimbang pengetahuan dan pengalaman tentang budaya Tiongkok. Kegiatan ini juga akan diikuti perguruan tinggi yang memiliki Studi China. Setiap perguruan tinggi mengirimkan perwakilannya akan bersaing dalam kegiatan itu. ”Belum tahu kalau tahun ini digelar di kampus mana. Yang jelas tiap tahun selalu ada,” ungkapnya. Adapun persiapan yang dilakukan, mendorong kualitas bahasa Mandarin mahasiswanya. (rko)
http://suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=19751
Universitas Darma Persada Perintis Sastra Cina
Unsada adalah universitas yang pertama kali memiliki jurusan Sastra Cina.
Reformasi memberikan banyak kontribusi, tidak hanya dalam dunia politik, pendidikan sastra Cina juga mendapatkan keleluasaan berkembang. Universitas Darma Persada (Unsada), menjadi perintis sebagai universitas swasta pertama di Indonesia yang memiliki jurusan Sastra Cina.
Seiring dengan perkembangan dunia, globalisasi dan dunia usaha antarnegara, Unsada terus berupaya mencetak peserta didiknya mahir berbahasa Mandarin, bahasa internasional kedua setelah bahasa Inggris. Namun, perjalanan Unsada agar terus eksis tidaklah mudah.
Semasa Orde Baru, jurusan Sastra Cina dijegal, buku-buku kuliah disortir. Situasi ini seiring, tatkala pemerintah pada masa itu membatasi ruang gerak budaya dan aktivitas komunitas Tionghoa.
Di sinilah keistimewaan Unsada yang didirikan berbekal inisiatif tokoh-tokoh lulusan universitas Jepang yang menamakan diri Persada seperti Ginanjar Kartasasmita dan Hendra Kartasasmita tahun 1963.
Ketika itu, WD Sukisman yang berprofesi penerjemah Presiden Soekarno, didaulat oleh Badan Koordinasi Intelijen Negara mengabdi di Unsada yang berdiri 6 Juli 1986.
Guru Besar Fakultas Sastra yang juga masih aktif mengajar di jurusan Sastra Cina Prof Gondomono, PhD, menuturkan, keistimewaan Unsada yang mengantongi restu memiliki jurusan Sastra Cina itulah yang hingga kini terus ditingkatkan seiring dengan tingginya persaingan antarperguruan tinggi yang mulai mendirikan jurusan Sastra Cina.
“Peraturan waktu itu memang amat membatasi ruang gerak kami, kegiatan belajar mengajar dibuat dengan berbagai improvisasi. Dulu kami kesulitan memasok buku-buku pelajaran dan harus terlebih dahulu diperiksa kejaksaan agung,” ungkapnya di Jakarta, Kamis (17/6).
Sekarang, Unsada dengan keistimewaannya sebagai pe-rintis pendiri sastra Cina menyadari keterpanggilan globalisasi dan hadirnya ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) terus menggenjot kompetensi peserta didiknya, baik S1 maupun D3. Bahkan, alumnus Unsada Sastra Cina, kini memimpin jurusan serupa di berbagai universitas seperti Bina Nusantara dan Al Azhar, Jakarta.
Selain fakultas sastra dan bahasa yang terdiri dari sastra Jepang, Cina, Inggris, Unsada juga memiliki fakultas lain, yakni fakultas teknik, teknologi kelautan, ekonomi dan pascasarjana dengan program studi energi terbarukan. Kini tercatat Unsada telah mencetak 5.500 alumnus dari 15 program studi.
Kualitas Mahasiswa
Kegiatan belajar mengajar yang interaktif terus dibangun dan didukung sarana dan prasarana yang modern, demi meningkatkan kualitas mahasiswa. Gondomono yang pernah menjabat sebagai rektor menjelaskan, meski letak kampus berada di pinggir Jakarta Timur dan berdekatan dengan Bekasi, usaha menjaring peserta didik dibentuk dengan strategi yang andal.
Selain memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi, Unsada pun menjalin kerja sama dengan lebih dari 30 perusahaan yang memang kini amat membutuhkan sumber daya manusia yang piawai berbahasa Mandarin. Selain itu, tambahnya, Unsada pun membekali peserta didik dengan berbagai keterampilan yang tak sekadar teori.
Pemahaman kebudayaan Tiongkok juga kontinu ditanamkan. Nota kesepahaman lewat pertukaran pelajar, pengajar kerap digelar dengan berbagai universitas di Tiongkok seperti Jinan University dan Guangxi Normal University.
Kepala Program Bahasa Mandarin Unsada Hin Goan Gunawan yang juga alumnus Unsada tahun 1993 mengungkapkan sekitar 400 lulusan Unsada cepat mendapat pekerjaan.
Di sisi lain, mahasiswa berbekal TOEFL bahasa Mandarin yang disebut Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) di atas enam, langsung bisa kuliah S2 di luar negeri. Tes HSK adalah tes untuk mengukur kemampuan seseorang yang bukan orang Tiongkok dengan kategori tes basic, basic intermediate dan advance.
“Tes ini dikeluarkan oleh Hanban, lembaga resmi di bawah kementerian Tiongkok, dimana mereka memiliki standar tes yang akurat. Pascates, mahasiswa baru bisa mengetahui hasilnya minimal tiga bulan dan maksimal enam bulan,” paparnya.
Ketua Jurusan Sastra Cina Unsada Dewi Hartati memaparkan selain dibekali kepiawaian berbahasa Mandarin, setelah semester IV, setelah mahasiswa mengantongi HSK akan memilih satu dari program kekhususan, yakni sejarah, linguistik, kebudayaan dan kesusastraan.
[SP/Ari Supriyanti Rikin]
Welcome to Blog Dosen Unsada This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Feb | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | |||