irna djajadiningrat

irna djajadiningrat

keep moving

irna djajadiningrat RSS Feed
 
 
 
 

LEKSIS

  1. 1. PENDAHULUAN

Kajian leksis berkaitan dengan  segala aspek kosakata sebuah bahasa, seperti kata dan maknanya, penyandingan kata dengan kata lain, dan hubungan kata dengan ranah kajian bahasa lain. Akan tetapi, pengertian leksis sendiri setakat ini tampak masih menjadi bahasan yang kontroversial.  Robins (1980/1992:75) menyatakan bahwa istilah leksis dipakai untuk mengacu ke aspek leksikal bahasa  dan ke kajian linguistik mengenai aspek ini. Pada halaman lain (386), ia menyatakan bahwa berkaitan dengan gramatika sistemik, leksis didefinisikan sebagai kosakata dalam suatu bahasa yang terdiri atas unsur-unsur leksikal tersendiri. Berdasarkan pendapatnya itu, tampak bahwa Robins memandang leksis sebagai hal yang berkaitan dengan seluk-beluk leksikal. Dia juga memandang leksis sebagai materi yang dibahas dalam suatu studi bahasa sekaligus nama studi yang membahasnya. Sementara itu, leksis dalam pandangan gramatika sistemik dianggap sama saja dengan kosakata.

Pandangan itu bertentangan dengan pendapat para linguis (Lewis:1993, Mathhews:1997, Saeed:1997) yang menyatakan bahwa leksis bukanlah kata lain dari kosakata tetapi meliputi juga hal yang berkaitan dengan pemerian kosakata. Leksis juga mencakupi idiom, kolokasi dan ungkapan.  Pada bagian sebelumnya, Lewis (1993:89-95) mengemukakan dasar anggapannya bahwa bahasa terdiri atas leksis yang digramatikalisasi, bukan tata bahasa yang dileksikalisasi. Ada beberapa jenis butir leksikal yang berbeda, yaitu kata, butir multikata yang mencakupi kolokasi dan ungkapan, dan verba frasal yang disebut polywords.  Berdasarkan uraiannya itu, Lewis membedakan secara tegas antara leksis dan kosakata.

  1. 2. KATA

Kata dapat dibahas dari beberapa sudut pandang, yaitu secara fonologis, ortografis, kemungkinan jeda, dan semantis. Kata fonologis dan ortografis diacu sebagai pengertian “realisasi“. Harus dibedakan kata fonologis (atau ortografis) dan kata-kata gramatikal yang direalisasikannya. Misalnya, kata fonologis /sæŋ/ dan kata ortografis padanannya sang merealisasikan kata gramatikal tertentu, yang secara tradisional diacu sebagai kala lampau sing. Berdasarkan adanya kemungkinan jeda, kata didefinisikan sebagai segmen kalimat dengan batas-batas deretan titik kemungkinan jeda. Ditinjau dari sudut semantis, kata dapat didefinisikan sebagai persatuan makna tertentu dengan susunan bunyi secara fonologis dan dapat dipakai menurut tata bahasa secara gramatikal. Definisi ini membuat perlunya kondisi agar kata secara serentak merupakan satuan semantis, fonologis, dan gramatikal.

Nation (1998:87) mengemukakan yang masuk ke dalam kelompok kata ialah  semua kata yang memiliki makna leksikal dan semua rumpun katanya (termasuk derivasi). Jadi, man, manly, unmanly, manhood, dan men masing-masing dapat disebut sebagai kata karena tiap unsur kata di atas memiliki makna leksikal yang berbeda. Apabila mengikuti paparan Nation, maka semua kata yang memiliki makna leksikal dan merupakan unsur yang dapat berdiri sendiri dapat dimasukkan ke dalam kelompok kata tanpa memandang adanya proses derivasi. Akan tetapi, gagasan di atas belum menjawab pertanyaan: apakah kelompok kata yang memiliki sanding kata dapat disebut kata? Kata memang merupakan kelompok yang paling umum dalam kelompok leksis. Kata merupakan unsur terkecil yang paling potensial membentuk kata baru dengan makna baru. Contohnya ialah kelompok kata miss the boat dan on the other hand yang memiliki makna sendiri tanpa terikat dengan makna unsur-unsur sanding katanya.

  1. IDIOM

Idiom berkaitan dengan kolokasi. Kolokasi khusus dinamakan idiom. Idiom dipakai untuk mengacu ke kolokasi yang dipakai karena kebiasaan; kolokasi ini mengandung lebih dari satu kata dan cenderung dipakai bersama-sama, dengan fungsi semantis yang tidak mudah disimpulkan apabila kata-kata yang menjadi komponen idiom tersebut dipakai secara terpisah satu sama lain, misalnya dalam:

She went for him hammer and thongs.

They run off hell for leather.

Pengetahuan tentang ciri khas seperti itu dalam sebuah bahasa, yang diperoleh dari pengalaman yang lama, pada umumnya dicapai pada akhir masa seseorang belajar bahasa asing. Dengan demikian, sering dikatakan bahwa penguasaan sebuah bahasa secara sempurna disebut penguasaan yang “idiomatis”. Ciri utama yang paling tampak dari idiom adalah maknanya yang tidak lagi memiliki hubungan langsung dengan makna unsur yang disandingkan atau maknanya tidak lagi dapat diramalkan dari makna unsur leksikalnya maupun makna gramatikalnya. Pada dasarnya, idiom ialah konstruksi dalam unsur-unsur yang saling memilih. Masing-masing anggota sebenarnya mempunyai makna, tetapi karena muncul bersama anggota leksis yang lain, konstruksi ini membentuk makna baru yang tidak sama dibandingkan makna anggota leksisnya. Meskipun demikian, Hill (2000:22) menyatakan bahwa tidak semua idiom selalu membentuk makna baru. Beberapa idiom masih memiliki makna yang berdekatan dengan makna salah satu unsur leksis yang dibawanya. Berdasarkan pemikirannya itu, ia membagi idiom menjadi dua jenis, yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan membentuk satu makna seperti for good, all the same, dan hit and miss, sedangkan idiom sebagian masih memiliki makna berdasarkan atas makna unsur leksisnya. Misalnya, white collar crime ’kejahatan yang dilakukan oleh orang tertentu yang biasanya pekerja kantor’,  to keep an eye on ‘mengawasi’.

Hills tidak membahas bentuk idiom yang menyandingkan verba dan preposisi yang maknanya masih berkaitan dengan salah satu unsur leksis yang dibawanya atau dapat pula memiliki makna sendiri. Padahal, jenis idiom seperti itu memiliki tingkat kemunculan yang tinggi dalam teks atau ujaran bahasa Inggris. Di bawah ini ialah contoh idiom yang menyandingkan verba dan preposisi yang dikutip dari Dixson (1971).

I refuse to put up with his actions any longer.

The game was called off on account of darkness.

It took me more than a month to get over the loss of his wife.

Contoh di atas dapat dikelompokkan ke dalam idiom penuh dan sebagian. Idiom put up with dikelompokkan ke dalam idiom penuh karena makna bentukan baru idiom tersebut tidak menunjukkan hubungan makna yang erat antaranggota leksisnya. Sementara itu, idiom call off dan get over dikelompokkan ke dalam idiom sebagian karena makna baru pada konstruksi tersebut menunjukkan hubungan yang erat antaranggota leksisnya. Jadi, idiom yang terdiri atas verba dan preposisi dapat menjadi idiom penuh atau idiom sebagian. Hal itu bergantung pada derajat hubungan makna anggota leksis idiom tersebut.

  1. KOLOKASI

Kolokasi menurut Firth dalam Carter dan McCarthy (1982: 32) adalah ”An abstraction at the syntagmatic level and is not directly concerned with the conceptual or idea approach to the meaning of words.” Misalnya, kata night berkolokasi dengan dark atau sebaliknya dan kata blond berkolokasi dengan hair. Menurut pandangan Firth kolokasi selanjutnya merupakan bagian utama dari makna kata. Berdasarkan pendapat tersebut Halliday sebagaimana dikutip Carter dan McCarthy (1988: 34), melakukan studi leksikal yang memusatkan perhatian pada kolokasi dan cara kolokasi digunakan untuk membangkitkan set leksikal. Menurutnya set ditentukan dengan mengacu kepada rumpun leksis yang ditentukan secara baku tanpa harus melihat makna seperti yang diajukan oleh para penggagas teori medan makna. Carter dan McCarthy menggambarkan contoh penggunaan kolokasi seperti pada tabel di bawah ini:

Argument Tea Car
Strong Ν Ν ν
Powerful Ν - ν

Dengan menggunakan analisis seperti pada tabel di atas, penutur dapat membedakan penggunaan kolokasi strong dengan powerful, yaitu strong dapat bersanding dengan argument, tea atau car, tetapi powerful hanya dapat bersanding dengan argument dan car saja.

Tingkat kemunculan yang sering dengan sanding katanya secara paradigmatis membentuk keanggotaan set. Keangotaan set itulah yang kemudian membangun mata rantai konseptual kolokasi. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa dua kata yang sering muncul dalam bentuk  sanding kata tidak berarti merupakan pasangan tetap. Mungkin saja di antara dua kata itu disisipi kosakata lain yang memiliki hubungan makna dengan kalimatnya. Hal itu tampak pada contoh-contoh berikut.

­ They collect stamps.

­ They collect foreign stamps only.

­ They collect many things, but chiefly only.

­ They collect many things, through their chief interest is in collecting coins. We,

however, are only interested in stamps.

(Greenbaum,1970:11  sebagaimana dikutip

Carter dan McCarthy, 1988:34)

Berdasarkan contoh di atas dapat dinyatakan bahwa yang memiliki kolokasi tetap hanya collect dan stamps. Akan tetapi, berdasarkan contoh itu pula dapat dikatakan bahwa kolokasi pada dasarnya bentuk sanding kata yang tidak terikat secara gramatikal (Carter dan McCarthy, 1988: 35).

Dari paparan di atas dapat dinyatakan bahwa kolokasi ialah asosiasi yang biasanya diberikan kepada sebuah kata dalam sebuah bahasa dengan kata-kata tertentu lainnya dalam kalimat. Kolokasi berbeda dengan sintaksis karena dalam kolokasi kita menelaah setiap kata sebagai sebuah unsure leksikal yang muncul /bersanding dengan kata lain sebagai unsur leksikal tersendiri. Sementara itu, dalam sintaksis kita menelaah kata sebagai anggota kelas kata dalam kaitannya dengan kata lain yang juga merupakan anggota kelas kata. Penutur bahasa menjadi terbiasa dengan kolokasi kata dan bisa mengharapkan kemunculan sebuah kata apabila kata tertentu lainnya muncul (dan sebaliknya) dalam ujaran, terlepas dari hubungan gramatikal antarkata tersebut sebagai anggota kelas kata.

  1. UNGKAPAN

Lyons (1968/1995:173) membahas ungkapan dalam uraian “ujaran jadi”. Menurut Saussure sebagaimana dikutip Lyons, ujaran jadi ialah ungkapan yang dipelajari sebagaimana keseluruhan yang tidak dapat dianalisis dan dipakai pada kesempatan khusus oleh penutur jati. Contohnya How do you do? Meskipun ungkapan itu menurut konvensi diberi tanda tanya, biasanya tidak dapat ditafsirkan sebagai pertanyaan dan tidak seperti pertanyaan-pertanyaan sebenarnya yang mulai dengan How do you . . ., yang disusun dengan kaidah produktif tata bahasa Inggris. Ungkapan tersebut tidak dapat dipasangkan dengan kalimat yang sepadan bentuknya I-very well, How does he . . .? He-beautifully, dan sebagainya. Struktur internal ungkapan tidak dapat dijelaskan dari kaidah yang menentukan penggabungan kata-kata yang diperbolehkan. Ungkapan tetap itu tidak memungkinkan perluasan dan variasi.

Pada bagian lain, Lyons (1968/1995: 410) menyatakan bahwa ungkapan seperti How do you do?  yang ditetapkan masyarakat dalam konteks tertentu digunakan dalam fungsi “komunikasi fatis”. Istilah komunikasi fatis ini dipinjam Lyons dari istilah yang digunakan Mallinowski, yaitu ujaran yang digunakan untuk memantapkan dan memelihara rasa kesetiakawanan dan kesejahteraan sosial.

Matthews (1997:123) mendefinisikan bahwa ungkapan.”…is any form of words which constitutes a unit of meaning“. Pada bagian lain, dia menyatakan bahwa ungkapan  tetap (fixed expression) ialah:

Any expression which offers a ready-made way of saying something. E.g. ‘nurse back to health’ in he nursed her back to health; cf. nursed her into health, nursed her out of illness, or help her back to health, which are not ready-made and which one is much  less likely to say”.

Berdasarkan pendapat Matthews dapat diinterpretasikan bahwa ungkapan terdiri atas lebih dari satu kata yang memiliki kesatuan makna dan siap dipakai oleh penutur bahasa sehingga penutur tidak perlu lagi mengubah-ubah urutan kata dalam ungkapan tersebut. Definisi yang ditawarkan Matthews pada dasarnya ada kesamaan dengan pandangan Lyons yang dikutip dari pendapat Sausssure tentang “ujaran jadi”, yaitu ungkapan itu dipakai sebagaimana adanya dan tidak dapat dianalisis dari sudut kaidah tata bahasa pembentukannya.

Pada umumnya, ungkapan dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu ungkapan tetap dan ungkapan setengah tetap. Ungkapan tetap lebih banyak digunakan dalam ujaran dan memiliki variasi gatra yang terbatas, misalnya

(1) Social greetings:

Good morning, Happy New Year

(2) Politeness Phrases:

No thank you, I’m fine

(3) ‘Phrase Book’ language:

Can you tell me the way to . . . , please?

I’d like a twin room for . . . nights, please?

(Lewis 1997: 9)

Ungkapan tetap pada umumnya pendek saja dan apabila dilakukan dalam ujaran pada dasarnya tidak mengharapkan jawaban dari lawan bicara dan kadang-kadang ditujukan untuk menjalin keakraban komunikasi “Politeness Phrases”, tidak digunakan untuk menyampaikan informasi.

Sementara itu, ungkapan setengah tetap lebih bersifat formal dan memiliki variasi gatra lebih beragam, contohnya ialah

What was really interesting . . . .

What was really suprising . . . .

What was really annoying  . . . .

Contoh di atas menunjukkan pengisi gatra setelah ungkapan what was really tidak hanya diisi oleh kata interesting saja. Namun, gatra tersebut dapat juga diisi kata suprising atau annoying. Selain contoh di atas, ungkapan setengah tetap digunakan juga dalam surat resmi, misalnya  there are broadly speaking two views of . . . , associated with . . . , in this paper I wish to suggest . . . , while the more progressive view . . .

  1. SIMPULAN

Bahasa terdiri atas sejumlah besar kosakata. Yang dimaksud dengan kosakata di sini bukan kosakata yang dikenal secara tradisional, yaitu yang menganggap kata sebagai kata tunggal, melainkan juga semua unsur leksis, termasuk sanding kata (idiom, kolokasi, dan ungkapan). Pada umumnya, orang memandang kosakata sebagai unsur leksikal yang memiliki makna berdasarkan kata yang dibawanya. Pada kenyataannya, bentuk sanding kata seperti idiom, kolokasi maupun ungkapan kerap kali tidak memiliki makna sesuai dengan kata yang dibawanya, melainkan telah membentuk makna baru. Meskipun demikian, kolokasi dan idiom memiliki ciri yang berdekatan. Keduanya merupakan gejala yang sangat kompleks untuk diperikan dalam sebuah unsur tunggal. Begitu pula dengan penggunaan idiom dan ungkapan kedua istilah itu sendiri seringkali membingungkan. Sebenarnya, penggunaan ledua istilah itu mencakupi objek yang kurang lebih sama. Hanya segi sudut pandangnya yang berlainan. Idiom dilihat dari segi makna leksikal unsur pembentuknya. Ungkapan dilihat dari segi ekspresi kebahasaan, yaitu dalam upaya penutur untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan emosinya dalam bentuk satuan bahasa yang dianggap siap pakai dan berfungsi fatis.

Pragmatics

Pragmatics is a study a bout utterance

please upload above image

Pages

Statistik Pengunjung

Visits today: 9
Total Visits : 10689