Apr 27

Anda kenal Andrea Hirata? Kalau Anda belum kenal, saya perkenalkan di sini: Andrea Hirata adalah penulis novel Indonesia yang karya tetraloginya Laskar Pelangi menjadi best seller dengan angka penjualan cukup fenomenal. Mungkin Anda akan kagum (walaupun mungkin juga tidak) kalau saya katakan bahwa berkat novel-novel tetraloginya itu, Andrea Hirata mampu menaikkan pamor Belitung, kampung halamannya,  (Anda tahu kan letak Belitung?)  menjadi daerah tujuan wisata yang diperhitungkan di Indonesia. Andrea begitu pandai bertutur tentang Belitung dalam novel-novel tetraloginya itu sehingga menarik minat orang untuk mengunjunginya. Bahkan, pemerintah daerah setempat mengupayakan membuka jalur penerbangan langsung ke lokasi itu (sebelumnya, orang harus melalui Bangka kalau hendak mencapai tempat itu).

Lalu, apa hubungan judul tulisan ini dengan Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya? Beginilah ceritanya! muas petang 30

Mar 29

Media massa kita diramaikan dengan berita-berita berakhirnya “Muktamar Nahdlatul Ulama” berikut terpilihnya KH Said Agiel Siraj sebagai Ketua Umum Tandfidziah. Kita juga mendapati berita akan dilaksanakannya “Muktamar Muhammadiyah” dalam rangka menyambut 100 tahun berdirinya organisasi itu. Senyampang itu, tersiar pula berita akan dilangsungkannya “Kongres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan” dan “Kongres Partai Demokrat”.

Pasti tak lama lagi  media massa dibanjiri berita tentang peristiwa2 tersebut di atas yang pada dasarnya merupakan pertemuan besar yang dihadiri oleh segenap anggotanya. Masalahnya, mengapa kelompok yang satu menamainya “muktamar” sementara yang lain menyebutnya “kongres”. Saya mencoba mengulasnya di sini. Klik ini MUKTAMAR VS KONGRES

            

Mar 12

Sebagai salah seorang anggota redaksi suatu jurnal, saya selalu merasa jemu dan tidak bergairah apabila harus mengoreksi tulisan yang memuat kajian karya sastra. Mengapa? Karena tulisan2 itu masih menggunakan teori dan metode yang sudah digunakan mungkin 25 tahun atau lebih yang lalu. Saya selalu berharap memperoleh pencerahan dalam setiap menjalankan tugas sebagai tukang koreksi. Tetapi, yang saya temukan itu2 saja dengan variasi karya yang berbeda. Bete ga sih.

Sesungguhnya, kita bisa melakukan kajian dengan pendekatan yang agak baru (walaupun ya sudah kuno juga, sih), yakni pendekatan tekstual. Pendekatan ini memanfaatkan “teori teks” yang mencakupi “semiotik” dan “hermeneutik”. Selain teori teks, kita juga bisa melakukan kajian dengan menggunakan discourse analysis ‘analisis wacana’ yang tadinya merupakan cabang dari ilmu linguistik, namun bisa dicobakan (dan sudah dilakukan) pada karya sastra karena pada dasarnya karya sastra juga teks, bukan?

Pada kesempatan ini, saya ingin mengingatkan Anda untuk memanfaatkan teori teks pada kajian2 sastra Anda dan supaya tidak lupa, coba deh klik ini analisis tekstual

Mar 11

Berita teranyar yang mendominasi media massa kita adalah perburuan or penangkapan para teroris. Hm, terorisnya laki-laki ya! Pasti masih segar dalam ingatan kita bagaimana para anggota parleman kita yang terhormat bersilat lidah dengan kata-kata yang kasar pada sidang2 pansus Century yang diakhiri dengan saling baku hantam pada sidang paripurnanya. Kita semua juga pasti menonton bahwa pelakunya para lelaki. Hehehe lelaki lagi. Siapa pelaku bom bunuh diri di Mega Kuningan setahun silam? Laki-laki juga, bukan?

Apakah memang kaum lelaki ditakdirkan untuk selalu membuat onar? Nggak juga, sih. Menurut saya, karena mereka tidak diberi hak untuk melampiaskan emosinya dengan “menangis”. Silakan baca pendapat saya dengan mengklik ini laki2 menangis

                                              

Mar 04

Sepotong kalimat berbahasa Arab tersebut bermakna “siapa bersungguh-sungguh, pasti berhasil”. Konon itulah mantera yang dilisankan di mulut, didengungkan di pikiran, dikobarkan di hati serta disuntikkan ke urat nadi dan sumsum tulang milik segenap penduduk sebuah pondok pesantren di Ponorogo, Jawa Timur oleh para uztad dan kiai mereka. Demikian cerita Ahmad Fuadi melalui tokoh Alif dalam bukunya Negeri Lima Menara.

Mantera tersebut, masih cerita Ahmad Fuadi, menjadi pola perilaku, pola pikir dan sikap batin segenap insan pondok itu. Rajin belajar dan menuntut ilmu merupakan hal yang lazim di sana, sehingga orang yang tidak suka belajar barangkali menjadi mahluk langka yang ajaib. Bergairah menekuni hobi, entah olahraga atau kesenian, meletup-letup di sana, sehingga para santri pintar dan tangguh, jago olahraga, piawai di bidang kesenian, hebat dalam berpidato, dan segudang prestasi lain. Konon, banyak cendekiawan dan orang pintar negeri dilahirkan oleh pondok pesantren ini. 

Rupanya, mentera atau doa akan menjadi ucapan tak bermakna dan tak berenergi apabila tidak dijadikan pola tingkah laku, pola pikir dan sikap batin. Artinya, energi doa harus diinternalisasi ke dalam segenap jiwa raga. Kalau kita perhatikan, banyak ucapan sehari-hari yang kita lisankan sesungguhnya mengandung mantera atau doa yang apabila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan berbuah hasil. Misalnya, ketika orang mengucapkan good morning, orang tersebut memanjatkan doa agar kita selamat, sehat dan sukses sepanjang pagi karena kata tersebut merupakan singkatan dari may you have a good morning. Demikian juga dengan good bye yang merupakan singkatan dari may God bless you. “Selamat pagi”, “selamat siang”  dan lain-lain tentu merupakan doa juga, bukan? Continue reading »

Feb 23

Judul di atas merupakan pepatah usang yang pasti diingat masyarakat Indonesia yang pernah sekolah or mengecap pendidikan formal. Meskipun diingat, pahamkah kita akan maknanya? Kalau aku tanyakan makna pepatah ini pada mahasiswaku, mereka dengan sigap menjawab,  ”Dari bahasanya kita jadi tahu, Bu, mereka orang apa.” Lalu aku bertanya lagi, “Kalau mereka memakai bahasa Latvia or Lituania, memangnya kalian bisa kenali mereka lewat bahasa itu?”  Tukas mereka, “Iya juga ya, Bu, jadi apa dong jawabnya?”

Secara semantis, jawaban mahasiswaku tadi memang tidak salah, tetapi kurang dalam alias kurang menukik.  Pepatah yang semula merupakan milik orang Melayu ini secara sempit bisa dimaknai seperti yang dikemukakan para mahasiswaku tadi. Dapat juga dimaknai bahwa dari cara seseorang bertutur dapat diketahui jati dirinya, misalnya apakah dia terpelajar, apakah dia tegas atau lemah-lembut, dan sebagainya. Continue reading »

Feb 19

Sering ya dengar frasa ini. Tapi, apakah kita benar2 paham makna “jender”? Samakah jender dengan jenis kelamin? Walaupun isu ini kedengarannya sudah kuno, ada baiknya kita menjernihkan kembali pandangan kita mengenai topik ini. Coba deh buka halaman Topik Sehari-hari pada blog ini n baca. Komentari ya!

Feb 11

Aku  perempuan Indonesia biasa bersuku bangsa Jawa, sangat mencintai tanah airku Indonesia dan bangga sebagai orang Indonesia dan orang Jawa. Bagiku, lirik seperti “Tanah airku tidak kulupakan/Kan terkenang selama hidupku” oleh Ibu Bintang Sudibyo atau “Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta” oleh Ismail Marzuki begitu meresap di hatiku. Demikian juga, potongan lirik “Indonesia tanah air beta/Pusaka abadi nan jaya” juga oleh Ismail Marzuki sangat menggetarkan kalbuku.  Selanjutnya, baca deh halaman About.

Feb 11

Taglineku “ayo menulis”. Pasti kalian bertanya-tanya, maksud loe? Nah, baca deh halaman “Beranda”.

Feb 11

Hai,

Aku selalu berharap bisa punya wawasan luas yang menjangkau setiap sudut dunia. Aku juga selalu ingin pikiranku dapat mempengaruhi dunia (namanya juga cita-cita) Continue reading »