Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada zaman Hindu-Jawa. Pertunjukan kesenian wayang merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa. Wayang dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum mahasehi, pada masa itu masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.
Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Batara Guru (siwa) dalam bentuk seni wayang Jawa.

Wayang Bali.
Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana selain itu cerita Panji dan cerita Menak (cerita-cerita Islam) ikut pula dipentaskan.
Pertunjukan wayang di setiap negara memiliki teknik dan gayanya sendiri, dengan demikian wayang Indonesia merupakan buatan orang Indonesia asli yang memiliki cerita, gaya dan dalang yang luar biasa..
Wayang, oleh para pendahulu negeri ini memiliki arti yang sangat dalam seperti Sunan Kali Jaga dan Raden Patah yang sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang.
Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian yaitu:
1. Wayang Kulit di Jawa Timur
2. Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah
3. Wayang Golek di Jawa Barat
Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu “Mana yang Isi (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)”.
Jenis-jenis wayang yang ada di Indonesia cukup banyak meliputi tidak hanya wilayah jawa saja tetapi terdapat pula di Sumatra, Kalimantan, Betawi dan beberapa suku di Indonesia lainnya, dibawah ini di sajikan beberapa jenis wayang tersebut.
1. Wayang Kulit Purwa

Kata purwa (pertama) dipakai untuk membedakan wayang jenis ini dengan wayang kulit yang lainnya.
“Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap”
(Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara).
Petikan di atas adalah bait 59 dalam Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa (1030), salah satu sumber tertulis tertua dan autentik tentang pertunjukan wayang kulit yang mulai dikenal di Jawa, yaitu pada masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga di Kerajaan Kediri. Wayang purwa biasanya menggunakan ceritera Ramayana dan Mahabarata,
Wayang kulit purwa terbuat dari bahan kulit kerbau, yang ditatah, diberi warna sesuai dengan kaidah pulasan wayang pedalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri dari tuding dan gapit.
Ditinjau dari bentuk bangunnya wayang kulit dapat digolongkan menjadi beberapa
2. Wayang Madya
Wayang kulit yang diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai penyambung cerita Wayang Purwa dengan Wayang Gedog. Cerita Wayang Madya merupakan peralihan cerita Purwa ke cerita Panji. Salah satu cerita Wayang Madya yang terkenal adalah cerita Anglingdarma. Wayang madya tidak sempat berkembang di luar lingkungan Pura Mangkunegaran.
Cerita Wayang Madya menceritakan sejak wafatnya Prabu Yudayana sampai Prabu Jayalengkara naik tahta. Cerita Wayang Madya ditulis oleh R.Ngabehi Tandakusuma dengan judul Pakem Ringgit Madya yang terdiri dari lima jilid, dan tiap jilid berisi 20 cerita
3.Wayang Gedog

Wayang Gedog atau Wayang Panji adalah wayang yang memakai cerita dari serat Panji. Wayang ini mungkin telah ada sejak zaman Majapahit. Bentuk wayangnya hampir sama dengan wayang purwa. Tokoh-tokoh kesatria selalu memakai tekes dan rapekan. Tokoh-tokoh rajanya memakai garuda mungkur dan gelung keling. Dalam cerita Panji tidak ada tokoh raksasa dan kera. Sebagai gantinya, terdapat tokoh Prabu Klana dari Makassar yang memiliki tentara orang-orang Bugis. Namun, tidak selamanya tokoh klana berasal dari Makassar, terdapat pula tokoh-tokoh dari Bantarangin (Ponorogo), seperti Klana Siwandana, kemudian dari Ternate seperti prabu Geniyara dan Daeng Purbayunus, dari Siam seperti Prabu Maesadura, dan dari negara Bali.
Wayang gedog yang kita kenal sekarang, konon diciptakan oleh Sunan Giri pada tahun 1485 caka(1568 M) (di tandai candra sengkala gamaning naga kinaryeng bathara) pada saat mewakili raja Demak yang sedang melakukan penyerbuan ke Jawa Timur (invasi Trenggono ke Pasuruan).
.
Wayang ini, boleh dibilang sudah punah. Hanya sisa-sisa peraganya saja yang masih bisa dilihat di beberapa museum dan Keraton Surakarta.
Dalam pementasannya, wayang gedog memakai gamelan berlaras pelog dan memakai punakawan Bancak dan Doyok untuk tokoh Panji tua , Ronggotono dan Ronggotani untuk Klana, dan Sebul-Palet untuk Panji muda.Seringkali dalam wayang gedog muncul figur wayang yang aneh, seperti gunungan sekaten, siter (kecapi), payung yang terkembang, perahu, dan lain-lain.
4.Wayang Dupara

Wayang KLITIK Dupara diciptakan pada awal abad ke-20 untuk menceritakan kisah sejarah Surakarta (Solo), saat ini pertunjukan wayang tersebut telah langka.
KLITIK wayang boneka yang terbuat dari kayu dan diukir pada relief rendah.dan dicat. Mereka bergerak langsung di depan penonton. Tidak ada layar.
5. Wayang Sadat

kayon sadat

wayang sadat
suatu bentuk baru perkembangan wayang yang digunakan oleh guru-guru Islam untuk menunjukkan prinsip-prinsip etika dan agama Islam kepada penduduk asli Jawa dan Bali.
Pakaian yang dikenakan dalang juga berbeda. Kalau biasanya ki dalang mengenakan beskap, jarit, keris, dan blangkon di kepalanya, maka dalang wayang sadat mengenakan jubah biasa (seperti surjan), dan surban di kepalanya. Sedangkan wiyaga dan waranggana (sinden) mengenakan baju yang ditutup mukena.
Selama pergelaran wayang sadat, bacaan lafal Alquran kerapkali terdengar. Bacaan syahadat dan basmallah terdengar berselang-seling, saat dalang memainkan tokok wayang Sunan Bonang atau waliyullah lainnya.
Dengan tampilan seperti itu, wayang sadat sangat baik dan mengena apabila digelar di lingkungan pondok pesantren, karena unsur dakwah merupakan suatu keharusan dalam pergelaran wayang sadat.
6.Wayang Suluh

Wayang Suluh diciptakan pada tahun 1947. Ini mengalami periode gemilang pada 1950-an. Kata “Suluh” berarti lampu, obor atau iluminasi “. Kata mencerminkan tujuan dari kinerja yang memberikan penerangan (informasi) kepada masyarakat dengan Departemen Pemerintah, terutama pada masa Revolusi Indonesia sampai masa souvereignity.
Karakter dilakukan di Wayang Suluh dapat mengubah peran mereka atau nama mereka sesuai dengan cerita yang disajikan. Biasanya, cerita-cerita memiliki tema persatuan dan kesatuan bangsa, pengembangan masyarakat, pertarungan antara yang baik dan yang buruk
7.Wayang Kancil

Wayang Kancil adalah wayang kulit yang berisi dongeng anak-anak. Dongeng tentang dunia binatang, dan berbagai dongeng daerah lainnya.
Disebut wayang kancil karena cerita utama dan tokoh utamanya adalah Kancil si cerdik.
Di sini tersedia gambar untuk membuat wayang. Gambar berbentuk tangan / kaki / belalai terpisah, artinya dibuat seperti tangan wayang kulit purwa, bisa bergerak. Gambar masih kasar, memerlukan sentuhan seni lanjutan supaya enak dipandang (detail, warna). Sentuhan seni pada pembuatan wayang terserah cita rasa sang pembuat.
termasuk wayang modern, diciptakan tahun 1925 oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem.
Wayang Kancil adalah wayang yang juga terbuat dari kulit itu, menggunakan tokoh peraga binatang. Cerita untuk lakon-lakon para Wayang Kancil diambil dari Kitab Serat Kancil Kridamartana karangan Raden Panji Natarata.

Wayang Kancil termasuk di antara jenis wayang yang tidak berkembang, meskipun seorang seniman, yakni Iedjar Subroto tetap berusaha mempopulerkannya.
8. Wayang Calonarang

Sering disebut Wayang Leyak, adalah salah satu jenis wayang kulit Bali yang dianggap angker karena dalam pertunjukannya banyak mengungkapkan nilai-nilai magis dan rahasia pangiwa dan panengen. Wayang ini pada dasarnya adalah pertunjukan wayang yang mengkhususkan lakon-lakon dari ceritera Calonarang. Sebagai suatu bentuk seni perwayangan yang dipentaskan sebagai seni hiburan, wayang Calonarang masih tetap berpegang pada pola serta struktur pementasan wayang kulit tradisional Bali (Wayang parwa).
Kekhasan pertunjukan wayang Calonarang terletak pada tarian sisiya-nya dengan teknik permainan ngalinting dan adegan ngundang-ngundang di mana sang dalang membeberkan atau menyebutkan nama-nama mereka yang mempraktekkan pangiwa. Hingga kini wayang Calonarang masih ada di beberapa Kabupaten di Bali walaupun popularitasnya masih di bawah wayang Parwa.
9. Wayang krucil/Klitik

Wayang krucil pertama kali diciptakan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan Wayang Krucil. Wayang ini dalam perkembangannya menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi) yang kemudian dikenal sebagai Wayang Klithik.
Di daerah Jawa Tengah wayang krucil memiliki bentuk yang mirip dengan wayang gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris, dan menggunakan tutup kepala tekes (kipas). Sedangkan, di Jawa Timur tokoh-tokohnya banyak yang menyerupai wayang kulit purwa , raja-rajanya bermahkota dan memakai praba. Di Jawa Tengah, tokoh-tokoh rajanya bergelung Keling atau Garuda Mungkur saja.

Cerita yang dipakai dalam wayang krucil umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit. Namun, tidak menutup kemungkinan wayang krucil memakai cerita wayang purwa dan wayang menak, bahkan dari babad tanah jawa sekalipun.
Gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini amat sederhana, berlaras slendro dan berirama playon bangomati (srepegan). Namun, ada kalanya wayang krucil menggunakan gendhing-gendhing besar.
10.Wayang Ajen
Istilah Ajen diambil dari Bahasa Sunda yang artinya ngajenan. Ngajenan artinya menghargai atau sesuatu yang diberikan penghormatan atau penghargaan. Wayang Ajen lahir dari proses kesadaran generasi muda pada wayang golek Sunda tradisi yang asli dengan eksplorasi kreatif.
Wayang ajen lahir dalam tafsir baru, membaca tradisi dengan cara-cara modern sehingga menjadi sesuatu yang berbeda. Penciptaan kembali struktur pertunjukan wayang golek Sunda tradisi disesuaikan dengan format teater modern dengan pendekatan konsep dramaturgi. Wayang golek ajen selanjutnya disebut Wayang Ajen diciptakan oleh Wawan Gunawan bersama Arthur S. Nalan pada tahun 1998, dan pertamakali dipentaskan lakon ”Kidung Kurusetra” pada tahun 1999 dalam acara Pekan Wayang Indonesia di TMII Jakarta.
Wayang Ajen bertujuan memberi alternatif pertunjukan wayang terutama untuk apresiasi bagi generasi muda sebagai tempat bercermin (ngaji rasa dan ngaji diri) sehingga akhirnya diharapkan adanya “pencerahan” dan perenungan tentang apa, siapa, dan mau apa hidup di dunia ini.
Wayang Ajen merupakan pertunjukan wayang golek gaya baru yang menitik beratkan pada pilihan cerita berdasarkan sebuah naskah lakon tertulis. Naskah lakon dibuat bersumber dari Wiracarita Mahabrata atau Ramayana, tetapi merupakan kemasan garapan lakon yang memiliki muatan pesan moral yang lebih aktual dan kontekstual. Wayang Ajen adalah pergelaran eksperimen kreatif wayang golek Sunda yang digarap secara akademis, dengan memanfaatkan kolaborasi dengan berbagai media seni yang saling Ngajenan atau menghargai dan saling melengkapi.
11. Wayang Sasak

Di Karangasem terdapat wayang kulit bernafaskan budaya Islam dari kelompok suku Sasak (Lombok Barat) yang disebut Wayang Sasak. Wayang yang mengambil lakon-lakon dari cerita Islam, khususnya dari Serat Menak ini, belakangan ini sudah sangat jarang dipentaskan karena para pelakunya terutama dalangnya yang sudah tiada.
Wayang Sasak dalam banyak hal merupakan perpaduan unsur-unsur seni budaya Bali dengan Sasak. walaupun lakon yang dibawakan adalah cerita Islam, bahasa yang dipakai terdiri dari bahasa Kawi, Bali dan Sasak. Gamelan pengiringnya, seperti yang terlihat dalam Festival Wayang Walter Spies tahun 1996, adalah ensambel kecil yang terdiri dari:
• sebuah suling
• sebuah pleret
• sepasang kendang
• sebuah kempul
• tawa-tawa
• cengceng kecil
Gamelan seperti ini banyak persamaannya dengan gamelan Arja atau Pagambuhan Bali. Tata penyajian Wayang Sasak sama dengan Wayang Kulit Bali; penonton menyaksikan bayangan wayang dari balik kelir (bukan dari sisi dalang).
12. Wayang Wahyu

yang terbuat dari kulit, tetapi corak tatahan dan sung¬gingannya agak naturalistik.
Pergelaran Wayang wahyu hampir serupa dengan Wayang Kulit Purwa, diiringi oleh seperangkat gamelan dan pesinden, kelir dan gedebog. Para dalangnya pun pada umumnya juga merangkap sebagai dalang Wayang Kulit Purwa.
Perkembangan Wayang Wahyu amat terbatas pada lingkungan masyarakat beragama Katolik, itu pun yang berasal dari suku bangsa Jawa. Padahal, tidak semua orang Jawa menyukai wayang. Dengan demikian Wayang Wahyu praktis tidak berkembang.
13. Wayang Parwa

adalah Wayang kulit yang membawakan lakon – lakon yang bersumber dari wiracarita Mahabrata yang juga dikenal sebagai Astha Dasa Parwa. Wayang Parwa adalah Wayang Kulit yang paling populer dan terdapat di seluruh Bali. Wayang Parwa dipentaskan pada malam hari, dengan memakai kelir dan lampu blencong dan diiringi dengan Gamelan Gender Wayang.
Walaupun demikian, ada jenis Wayang Parwa yang waktu penyelenggaraannya tidak harus pada malam hari. Jenis itu adalah Wayang Upacara atau wayang sakral, yaitu Wayang Sapuh Leger dan Wayang Sudamala. Waktu penyelenggaraannya disesuaikan dengan waktu upacara keseluruhan.
Wayang Parwa dipentaskan dalam kaitannya dengan berbagai jenis upacara adat dan agama walaupun pertunjukannya sendiri berfungsi sebagai hiburan yang bersifat sekuler. Dalam pertunjukannya, dalang Wayang Parwa bisa saja mengambil lakon dari cerita Bharata Yudha atau bagian lain dari cerita Mahabharata. Oleh sebab itu jumlah lakon Wayang Parwa adalah paling banyak.
14.Wayang Golek

Wayang golek saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat, yang memiliki fungsi yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain adakalanya diriingi dengan pertunjukan wayang golek.
Menurut dugaan, sebagaimana wayang kulit di daerah Jawa, wayang golek digunakan oleh para wali untuk menyebarkan Islam di Tanah Pasundan. Karena ajaran Hindu sudah cukup akrab di masyarakat Sunda kala itu, cerita Mahabrata dan Ramayana dari Tanah Hindu dimodifikasi untuk mengajarkan Ketauhidan. Misalkan, dalam cerita Mahabharata para dewa punya wewenang yang sangat absolut, sebagai penentu nasib dan takdir yang tidak bisa disanggah maka para wali membuat objek baru yang posisinya lebih kuat yaitu lewat tokoh Semar yang pada akhirnya Semar tersebut turun ke bumi -yang karena kesalahannya- untuk mendampingi setiap kejadian dalam babak Bharata Yuddha baik sebagai penengah atau sebagai eksekutor tokoh yang tidak bisa diajak ke dalam kebaikan.
15.Wayang Menak

Wayang Menak atau disebut juga Wayang Golek Menak merupakan wayang berbentuk boneka kayu yang diyakini muncul pertama kali di daerah Kudus pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwana II. Sumber cerita Wayang Menak berasal dari Kitab Menak, yang ditulis atas kehendak Kanjeng Ratu Mas Balitar, permaisuri Sunan Paku Buwana I pada tahun 1717 M.
Babon induk dari Kitab Menak berasal dari Persia, menceritakan Wong Agung Jayeng Rana atau Amir Ambyah (Amir Hamzah), paman Nabi Muhammad SAW. Isi pokok cerita adalah permusuhan antara Wong Agung Jayeng Rana yang beragama Islam dengan Prabu Nursewan yang belum memeluk agama Islam.
16.Wayang Papak / Wayang Cepak

Wayang ini terbuat dari kayu, yang ujungnya tidak runcing (papak = bhs Jawa) sehingga disebut wayang papak atau wayang cepak. Wayang cepak melakonkan babad Cirebon yang disampaikan dengan bahasa Cirebon.
17. Wayang Beber

pementasan wayang beber
Wayang yang berkembang di Indonesia sejak zaman kerajaan Hindu sampai Islam, kini keberadaannya nyaris tak terdengar atau nyaris punah karena saat ini tercatat hanya dua wayang beber yang masih tersimpan cukup baik.

Satu jenis wayang beber ada di Jawa Timur, sedangkan satunya lagi dimiliki Rubinem (60), penduduk Gelaran, Karangmojo, Gunungkidul. Kendati terawat, kondisinya juga memprihatinkan karena beberapa bagiannya sudah terkoyak dan gambarnya pudar.
”Wayang beber merupakan gambar, lukisan pada kain, dan dimainkan oleh seorang dalang yang tinggal menceritakan saja isi atau urut-urutan ceritanya dari lukisan yang dibentangkan,” ujar Rubinem.
Sang dalang, jelasnya, menceritakan gambar pada kain mori ukuran 3,8 meter x 75 cm dibantu dengan alat penunjuk gambar terbuat dari kayu kecil sepanjang satu meter. Lalu dalang menunjuk gambar dan mulailah dia bercerita sesuai dengan lukisan yang ditunjuknya.
Wayang beber milik Rubinem merupakan warisan turun-temurun dari leluhurnya. Menurutnya, dia pewaris generasi ke-15 yang harus menjaga keutuhan peninggalan tradisional tersebut.
Wayang miliknya terdiri atas enam gulungan, namun hanya empat gulungan yang selama ini dipentaskan. Gambar dalam empat gulungan menceritakan perjalanan cinta Panji Asmorobangun dan Galuh Condrokirono yang berasal dari Babad Kediri. Dua gulungan lain tidak boleh dipentaskan atas permintaan para leluhur dengan alasan yang belum jelas.
18.Wayang orang

wayang wong (bahasa Jawa) adalah wayang yang dimainkan denganmenggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut.
19. Wayang Gung dan Wayang Topeng (Kalimantan Selatan)
sejenis kesenian wayang orang pada suku Banjar di Kalimantan Selatan. Diperkirakan munculnya kesenian Wayang Gung di Tanah Banjar pada abad ke XVIII atau sekitar tahun 1760 M. Raja Banjar mempunyai hubungan erat dengan raja – raja di Pulau Jawa terutama Demak dan Mataram, sekitar abad ke XV. Hubungan inilah kesenian dan kebudayaan Jawa masuk ke Kalimantan. Kesenian ini antara lain adalah Wayang Orang. Wayang Orang ( Wayang Wong – Jawa ) sangat berkenan di hati suku – suku Kalimantan khususnya masyarakat Banjar.
19. Wayang Suket


Wayang suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita perwayangan pada anak-anak di desa-desa Jawa.
Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan dijalin lalu dirangkai (dengan melipat) membentuk figur serupa wayang kulit. Karena bahannya, wayang suket biasanya tidak bertahan lama.
Seniman asal Tegal, Slamet Gundono, dikenal sebagai tokoh yang berusaha mengangkat wayang suket pada tingkat pertunjukan panggung.
20. Wayang Timplong

Wayang Timplong adalah sejenis kesenian wayang dari daerah Nganjuk, Jawa Timur. Kesenian tradisional ini konon mulai ada sejak tahun 1910 dari Dusun Kedung Bajul Desa Jetis, Kecamatan Pace, provinsi Jawa Timur. Wayang ini terbuat dari kayu, baik kayu waru, mentaos, maupun pinus. Instrumen gamelan yang digunakan sebagai musik pengiring, juga sangat sederhana. Hanya terdiri dari Gambang yang terbuat dari kayu atau bambu, ketuk kenong, kempul dan kendang.
21.Wayang Arya
wayang ciptaan baru yang diciptakan pada tahun 1975 oleh dalang I Made Sidja dari desa Bona, atas dorongan almarhum I Ketut Rindha.
Permunculan wayang ini banyak dirangsang oleh kondisi kehidupan Dramatari Arja yang ketika itu memprihatinkan, didesak oleh Drama Gong. Walaupun masih tetap mempertahankan pola pertunjukan wayang tradisional Bali,
Wayang Arja menampilkan lakon-lakon yang bersumber pada cerita Panji (Malat). Kekhasan pertunjukan Wayang Arja terasa pada seni suara vokalnya yang memakai tembang-tembang macapat yang biasa dipergunakan dalam pertunjukan Dramatari Arja.
Juga, bentuk wayangnya menirukan tokoh-tokoh utama dalam Arja dengan segala atributnya. Wayang Arja kurang begitu populer di Bali, walaupun dalang yang biasa membawakan wayang ini terdapat hampir di seluruh Bali.
22.Wayang Potehi

Potehi berasal dari kata poo (kain), tay (kantung) dan hie (wayang). Wayang Potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain. Kesenian ini sudah berumur sekitar 3.000 tahun dan berasal dari daratan Cina asli.
Menurut legenda, seni wayang ini ditemukan oleh pesakitan di sebuah penjara. Lima orang dijatuhi hukuman mati. Empat orang langsung bersedih, tapi orang kelima punya ide cemerlang. Ketimbang bersedih menunggu ajal, lebih baik menghibur diri. Maka, lima orang ini mengambil perkakas yang ada di sel seperti panci dan piring dan mulai menabuhnya sebagai pengiring permainan wayang mereka. Bunyi sedap yang keluar dari tetabuhan darurat ini terdengar juga oleh kaisar, yang akhirnya memberi pengampunan.
23.Wayang Gambuh
Wayang Gambuh adalah salah satu jenis wayang Bali yang langka, pada dasarnya adalah pertunjukan wayang kulit yang melakonkan ceritera Malat, seperti wayang panji yang ada di Jawa.
Karena lakon dan pola acuan pertunjukan adalah Dramatari Gambuh, maka dalam banyak hal wayang Gambuh merupakan pementasan Gambuh melalui wayang kulit. Tokoh-tokoh yang ditampilkan ditransfer dari tokoh-tokoh Pegambuhan, demikian pula gamelan pengiring dan bentuk ucapan-ucapannya.
Konon perangkat wayang Gambuh yang kini tersimpan di Blahbatuh adalah pemberian dari raja Mengwi yang bergelar I Gusti Agung Sakti Blambangan, yang membawa wayang dari tanah Jawa (Blambangan) setelah menaklukan raja Blambangan sekitar tahun 1634. Almarhum I Ketut Rinda adalah salah satu dalang wayang Gambuh angkatan terakhir yang sebelum meninggal sempat menurunkan keahliannya kepada I Made Sidja dari (Bona) dan I Wayan Nartha (dari Sukawati).
24.Wayang Cupak

Wayang Cupak termasuk wayang kulit Bali yang sangat langka, adalah pertunjukan wayang kulit yang melakonkan cerita Cupak Grantang yang mengisahkan perjalanan hidup dari dua putra Bhatara Brahma yang sangat berbeda wataknya.
Bentuk pertunjukan wayang ini tidak jauh berbeda dengan wayang kulit Bali lainnya hanya saja tokoh-tokoh utamanya terbatas pada Cupak dan Grantang, Men Bekung dan suaminya Pan Bekung, Raksasa Benaru, Galuh Daha, Prabu Gobagwesi dan lain sebagainya.
Pertunjukan wayang Cupak pada dasarnya masih tetap berpegang kepada pola serta struktur pementasan wayang kulit tradisional Bali (wayang Parwa).

Kekhasan pertunjukan wayang Cupak ini terasa pada seni suara vokalnya yang memakai tembang-tembang macapat (ginada) dan penampilan tokoh-tokoh Bondres yang sangat ditonjolkan. Wayang Cupak sangat populer di daerah Kabupaten Tabana
Sumber:
http://id.wikipedia.org
http://heritageofjava.com/portal/article.php?story=20090310003522441
http://www.petra.ac.id/eastjava/culture/bojoneg.htm
http://wayangkancil.tripod.com/
http://wayangajen.com
http://www.babadbali.com/seni/wayang/wayang-sasak.htm
http://wayangprabu.com/2009/04/28/merindukan-wayang-sadat/
http://www.beritacerbon.com/beritafoto/2008-04/wayang-papak/3
http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/31/ked06.htm
http://ansepadang.blogspot.com/2008/06/sekilas-menjenguki-wayang-gung.html